Langsung ke konten utama

Where's your responsibly.

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

    الحمد لله الذي أرسل رسوله بالهدى و دين الحق ليظهره على الدين كله وكفى بالله شهيدا 

Alhamdulillah, pada kesempatan pada malam hari ini saya bersilaturahim dengan teman-teman Netizen, moga moga silaturahim ini dapat berjalan dengan lancar dan mendapat pahala dari Allah. 
shalawat serta salam, tak lupa kita sanjungkan kepada Nabi Muhammad Saw., beserta keluarganya para sahabatnya dan juga para pengikutnya.

Saya akan mengambil tema adalah "Where's your responsibly". 

Teman-teman yang saya hormati saya akan membacakan surah Ali Imran ayat 159 yang berbunyi :


فَبِمَا رَحۡمَةٖ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمۡۖ وَلَوۡ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلۡقَلۡبِ لَٱنفَضُّواْ مِنۡ حَوۡلِكَۖ فَٱعۡفُ عَنۡهُمۡ وَٱسۡتَغۡفِرۡ لَهُمۡ وَشَاوِرۡهُمۡ فِي ٱلۡأَمۡرِۖ فَإِذَا عَزَمۡتَ فَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُتَوَكِّلِينَ ١٥٩
159. Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya

Ayat ini,ketika terjadi kekalahan pasukan kaum Muslimin dengan pasukan kafir Quraisy pada waktu perang Uhud. kekalahan mereka membuat mereka menderita karena di antara pasukan Muslim ada yang berbuat pelanggaran. Nabi Saw, beliau selaku panglima perang beliau tetap mempunyai tanggung jawab penuh kepadanya. Beliau melakukan lemah lembut kepada pasukannya, dan hingga Nabi melakukan bermusyawarah kepada pasukannya, supaya nanti ketika di waktu perang yang akan datang yakni perang Ahzab atau disebut perang Khandaq pasukan kaum Muslim dapat meraih kemenangan. 

Teman-teman Netizen, yang dimuliakan Allah. 

Tentu itu ayat ini bisa menjadikan dan menanamkan seorang pemimpin seperti contohnya Rasulullah Saw, yang sosoknya lemah lembut disertai dengan ketegasan, supaya dapat membangun umat, membangun persatuan umat yang terpecah belah, serta membangun urusan-urusan duniawi baik itu ekonomi, politik, sosial dan kemasyarakatan. 

Maka dari itu, seorang pemimpin itu harus mempunyai tanggung jawab penuh, baik tanggung jawab pribadi, tanggung jawab keluarga, tanggung jawab masyarakat, maupun tanggung jawab negara. 

Kalau seandainya dia menjadi seorang pemimpin itu karena ia dipuji oleh orang lain karena ada cewek cantik, ada cowok ganteng, gagah, ada kerabatnya yang selalu mendukung dia. Maka, tanggung jawab yang ia lakoni itu tidak ada sama sekali. 


Cobalah minimal, tanggung jawab pribadi, memimpin diri sendiri, supaya diri kita ini dapat menjadi manusia yang berakhlak mulia, tidak disertai dengan riya' ataupun sum'ah. menjadi kepribadian yang mempunyai wibawa, menjadi kepribadian yang bisa membedakan antara haq dengan batil, serta menjadi manusia yang begitu kuat baik jasmani maupun rohani. Bayangkan ada seseorang yang menzholimi kita, ada yang mengejek kita baik secara langsung maupun secara tidak langsung, maka kita harus menilai diri kita, tidak melakukan dendam, hingga kedepannya  meminta maaf kepada orang lain yang menzholimi kita.

Begitu pun musuh kita adalah hawa nafsu, lawanlah hawa nafsu itu supaya dapat menjalankan intelektual kita dengan lancar, dan dapat berkembang kemampuan (ability) kita.

Kalau tanggung jawab pribadinya itu sudah berbulat tekad, maka bertawakal kepada Allah. tawakal di sini bukan hanya sekedar diam saja terus berserah diri, melainkan bila usaha nya sudah mencapai maksimal meskipun tantangannya masih begitu berat, barulah kita melakukan berserah diri pada Allah Swt.

Teman-teman Netizen yang dimuliakan Allah di mana pun Anda berada.

Selanjutnya adalah tanggung jawab keluarga, sebagai suami harus mencari nafkah untuk istri begitupun mencari nafkah untuk anak-anak. Ini levelnya sangat berat sekali. Kalau dia tidak bisa mencari nafkah, kemudian tidak bisa mengurusi dalam urusan ekononi, pendidikan, kemasyarakatan, mana mungkin bisa untuk menjadi keluarga sakinah, mawaddah dan wa rahmah. Untuk mencapai tiga kata tersebut maka harus ada tanggung jawabnya.

Menikah itu menyempurnakan separuh agama, separuh agama itu seperti apa, tidak hanya menjaga kemaluannya tetapi tanggung jawabnya.

Tak lupa pula adalah perbedaan. Nah, di antara keluarga itu pasti mempunyai perbedaan pendapat, baik dalam ekonomi, sosial, kemasyarakatan, politik, dan yang lebih penting adalah agama. Semua perbedaan itu dapat menjadi tambahan wawasan ilmu pengetahuan kita, tidak boleh melakukan terpecah belah, tidak boleh melakukan pertikaian antara satu sama lain. Maka dari itu ingatlah kata "BHINEKA TUNGGAL IKA" (Berbeda-beda tetapi tetap satu). Ini yang harus kita tanamkan sebagai seorang pemimpin.

Selanjutnya adalah tanggung jawab masyarakat, ini level yang lebih berat lagi, ini merupakan level yang harus kita hadapi ketika menjadi seorang pemimpin. Ketika misalnya menjadi Rektor atau Pembantu Rektor ataupun menjadi Dekan atau Pembantu Dekan, ini pun juga dapat mempunyai tanggung jawab kepada masyarakat Perguruan Tinggi, baik tanggung jawab Fakultas maupun tanggung jawab Universitas. Seandainya tanggung jawabnya tidak konsekuen maka akan terjadi kemunduran nanti.

Terakhir adalah tanggung jawab negara, ini level yang lebih lebih berat lagi, luar biasa. Seorang pemimpin harus benar-benar waspada sekali terhadap Korupsi, atau Pungutan Liar (PUNGLI), kalau misalnya di antara seorang pemimpin untuk negara itu korupsi bagaimana negara bisa maju, bagaimana bisa mensejahterakan rakyat, bagaimana bisa mempedulikan kaum fakir dan miskin, bagaimana ekonominya bisa maju, begitupun pendidikan, sosial dan politik, dan yang lebih penting adalah agamanya agar dapat menjadi toleransi penuh antar umat beragama.

Ini yang penulis khawatirkan.

Semoga nanti di PEMILU 2019 ini, akan melahirkan Presiden atau Wakil Presiden dan wakil rakyat dari fraksi DPR, DPD dan DPRD yang mempunyai tanggung jawab penuh tanpa ada riya' dan sum'ah dari orang lain. Menjadi seorang pemimpin itu tugasnya sangat berat.

Demikian, semoga bermanfaat dan dapat menjadi tanaman dalam hidup ini, dan dapat menjadi motivasi ketika menjadi seorang pemimpin.

Terimakasih

Wassalamu'alaikum warhmatullah wabarakatuh. 

Komentar